

Di era digital yang semakin terhubung, media sosial tidak hanya menjadi alat komunikasi, tetapi juga sarana penyebaran informasi yang sangat berpengaruh terhadap pola pikir masyarakat. Salah satu teknik yang digunakan secara luas dalam penyampaian informasi adalah teknik framing. Tapi, apa itu framing? Dan bagaimana pengaruhnya terhadap cara kita memandang suatu isu?
Framing adalah teknik dalam komunikasi di mana suatu informasi disajikan dengan sudut pandang tertentu untuk membentuk persepsi audiens. Dalam konteks media sosial, framing digunakan untuk mengatur cara sebuah peristiwa atau isu ditampilkan, sehingga publik menangkap makna sesuai dengan narasi yang diinginkan.
Sebagai contoh, dua berita tentang demonstrasi bisa menggunakan frame yang berbeda: satu menyebutkan “aksi damai rakyat”, sementara yang lain menyebutnya “kerusuhan jalanan”. Padahal kejadian yang dilaporkan sama, tetapi cara penyampaiannya membentuk persepsi yang berbeda.
Media sosial memungkinkan siapa saja menjadi penyampai informasi—baik individu, influencer, maupun akun media massa. Beberapa cara framing dilakukan di media sosial antara lain:
Pemilihan kata-kata tertentu (diksi) yang bersifat menggiring opini.
Penggunaan visual atau gambar yang memperkuat narasi.
Penyusunan headline yang bersifat provokatif atau emosional.
Fokus pada aspek tertentu dari suatu kejadian, sementara aspek lain diabaikan.
Dengan algoritma yang mendukung keterlibatan (engagement), konten yang menggunakan framing kuat biasanya lebih banyak disebarkan, disukai, atau dikomentari. Hal ini membuat informasi dengan frame tertentu menjadi lebih dominan di linimasa pengguna.
Teknik framing memiliki pengaruh besar terhadap cara kita menilai suatu informasi. Sering kali, kita membentuk opini bukan berdasarkan fakta utuh, melainkan berdasarkan cara informasi tersebut dibingkai.
Beberapa dampak framing antara lain:
Munculnya bias pemikiran, karena informasi tidak disampaikan secara seimbang.
Polarisasi opini, terutama dalam isu politik dan sosial.
Kesalahan dalam mengambil keputusan, karena hanya melihat dari satu sudut pandang.
Jika dibiarkan, framing dapat membuat masyarakat terjebak dalam filter bubble, yaitu kondisi di mana seseorang hanya terpapar pada informasi yang sesuai dengan pandangannya saja.
Untuk menghindari dampak negatif framing, penting bagi kita untuk menjadi pengguna media sosial yang kritis dan sadar informasi. Beberapa langkah yang bisa dilakukan:
Bandingkan informasi dari beberapa sumber yang berbeda.
Tinjau ulang bagaimana informasi disajikan: apakah ada muatan opini atau emosi?
Hindari menyebarkan informasi yang belum diverifikasi kebenarannya.
Kenali bias pribadi dan terbuka terhadap perspektif lain.
Teknik framing adalah alat komunikasi yang sangat kuat dalam membentuk persepsi publik, terutama di media sosial. Dengan memahami bagaimana framing bekerja, kita bisa lebih bijak dalam mengonsumsi informasi dan membentuk opini. Di tengah derasnya arus informasi, kesadaran akan framing adalah langkah awal untuk berpikir lebih jernih dan objektif.
Kami menyediakan berbagai jasa buzzer untuk meningkatkan visibilitas, engagement, dan eksposur bisnis Anda di media sosial dan platform digital, baik urusan pribadi maupun bisnis.
Jasa Trending Topik
Jasa Voting
Jasa Komentar
Jasa Download & Rating
Jasa Viewers
Jasa Fyp Tiktok
Jasa Likes
Dan lainnya
08.00 – 22.00 WIB
Perumahan Buana Subang Kencana, Blk. C No.94, Karanganyar, Kec. Subang, Kabupaten Subang, Jawa Barat 41211
Copyright © 2024 – Jasa Buzzer Indonesia – All rights reserved