

Permusuhan antara Iran dan Israel merupakan salah satu konflik paling menegangkan di Timur Tengah. Awalnya, hubungan kedua negara cukup baik. Iran bahkan menjadi negara Islam kedua yang mengakui berdirinya Israel pada 1948. Namun, situasi berubah drastis setelah Revolusi Islam Iran pada 1979 yang dipimpin Ayatollah Khomeini. Pemerintahan baru Iran memutuskan hubungan diplomatik dengan Israel, menyita kedutaan Israel, dan menyatakan dukungan penuh pada perjuangan Palestina. Sejak saat itu, permusuhan terhadap Israel menjadi salah satu pilar utama kebijakan luar negeri Iran, sejalan dengan upaya Iran memposisikan diri sebagai kekuatan pan-Islam dan pelindung Palestina.
Ketegangan kembali memuncak pada pertengahan 2025. Israel melancarkan serangan mendadak ke Teheran dengan target program nuklir Iran dan fasilitas militer utama. Serangan ini menewaskan sejumlah pemimpin militer penting Iran dan menghancurkan infrastruktur vital, termasuk fasilitas energi dan senjata bawah tanah. Sebagai balasan, Iran meluncurkan rudal dan drone ke wilayah Israel serta menyerang pangkalan militer Amerika Serikat di Timur Tengah.
Perang antara Iran dan Israel berlangsung selama 12 hari dan menimbulkan kerugian besar di kedua belah pihak. Di Iran, lebih dari 120 rumah di Teheran hancur total dan 500 rumah lainnya mengalami kerusakan berat akibat serangan udara dan rudal Israel. Pemerintah Iran melaporkan lebih dari 600 korban jiwa, sementara kelompok HAM berbasis di Washington menyebut angka kematian melebihi 1.000 orang, termasuk ratusan warga sipil dan anggota pasukan keamanan. Lebih dari 5.000 orang mengalami luka-luka. Sementara itu, di Israel, setidaknya 28 orang tewas dan lebih dari 1.000 orang terluka akibat serangan balasan Iran. Fasilitas militer, infrastruktur pendukung program nuklir, dan sejumlah fasilitas energi di Iran menjadi sasaran utama serangan Israel.
Setelah 12 hari pertempuran sengit, kedua negara akhirnya menyepakati gencatan senjata pada akhir Juni 2025 dengan mediasi Amerika Serikat. Iran menerima usulan gencatan senjata pada 24 Juni 2025, sehari setelah Israel menyetujuinya. Meski gencatan senjata berhasil tercapai, pemulihan di Iran diperkirakan akan memakan waktu lama dan membutuhkan dana besar untuk membangun kembali rumah warga serta fasilitas umum yang hancur. Namun, kesepakatan ini tidak mencakup Gaza. Usai perang dengan Iran berakhir, Israel kembali memfokuskan operasi militernya di Gaza, menyebabkan jumlah korban sipil terus bertambah dan situasi kemanusiaan semakin memburuk.
Amerika Serikat memegang peran penting dalam menengahi kesepakatan gencatan senjata, meskipun prosesnya diwarnai ketegangan dan protes dari warga Iran yang menilai perjanjian itu hanya menguntungkan Israel dan AS. Demonstrasi besar-besaran meletus di Teheran untuk menolak kesepakatan tersebut, sementara ledakan rudal masih terdengar meski perjanjian telah diumumkan.
Konflik Iran–Israel bukan sekadar perang antara dua negara, melainkan bagian dari dinamika geopolitik lebih luas di Timur Tengah. Permusuhan yang berakar sejak Revolusi Islam 1979 kini telah berkembang menjadi aksi militer terbuka yang menimbulkan korban jiwa dan kerusakan besar. Meski gencatan senjata telah tercapai, dampak perang masih terasa, dan ketegangan di kawasan belum benar-benar mereda.
Kami menyediakan berbagai jasa buzzer untuk meningkatkan visibilitas, engagement, dan eksposur bisnis Anda di media sosial dan platform digital, baik urusan pribadi maupun bisnis.
Jasa Trending Topik
Jasa Voting
Jasa Komentar
Jasa Download & Rating
Jasa Viewers
Jasa Fyp Tiktok
Jasa Likes
Dan lainnya
08.00 – 22.00 WIB
Perumahan Buana Subang Kencana, Blk. C No.94, Karanganyar, Kec. Subang, Kabupaten Subang, Jawa Barat 41211
Copyright © 2024 – Jasa Buzzer Indonesia – All rights reserved